Tips Ngombyok Cipoh & Perawatannya

Tips Ngombyok Cipoh & Perawatannya ala Suhu Firdaus

Posted on

Narasumber : Moch. Firdaus Shebadak – Komunitas Cipow Tangerang (KCT)

Ketika seorang memutuskan untuk menjadi seorang Cipman, artinya ia juga harus mampu bertanggung jawab memberikan kelayakan hidup bagi cipoh yang dirawatnya, Seperti dikatakan Moch. Firdaus Shebadak, Salahsatu Dedengkotnya Komunitas Cipow Tangerang (KCT) ini mengatakan, meski perawatan cipoh tidak berbeda seperti burung-burung pada umumnya, namun seorang Cipman Sejati memiliki ikatan khusus dengan cipoh yang dirawat layaknya anak sendiri.

Menurut Firdaus, hal yang paling menantang bagi seorang Cipman adalah merawat cipoh dari ombyokan hingga menjadi gacor dan menjadi burung lapangan. Tak sedikit suka-duka yang ia alami dalam perawatan cipoh ombyokan, namun menurutnya semua harus dilalui dengan kesabaran.

Mengintip kesuksesan Firdaus dalam perawatan cipoh ombyokan hingga sukses digantangan, cipman.com melakukan wawancara khusus untuk menanyakan langsung, tips untuk perawatan cipoh ombyokan.

Moch Firdaus Shebadak Photo by JBC Photography
Moch Firdaus Shebadak Photo by. JBC Photography

Menurut Pria yang akrab di sapa Daus, ada 2 hal utama untuk memulai merawat cipoh ombyokan, yang pertama adalah memilih burung sehat dan yang kedua adalah memilih burung jantan. Meski burung fighter yang satu ini cukup sulit untuk dibedakan jenis kelaminnya secara fisik, Daus menjelaskan sedikit ciri-ciri cipoh jantan yang umumnya dapat dijadikan tolak-ukur. “Badannya berdiri tegak, kepala agak sedikit papak/tidak membulat, warna sayap yang cerah, serta bola mata sedikit menojol” Ungkapnya.

Jika sudah mendapatkan cipoh yang sekiranya sehat dan berjenis kelamin jantan, selanjutnya adalah memilih sangkar yang nyaman untuk cipoh “Sebaiknya gunakan sangkar ukuran kecil, bisa gunakan sangkar no.5/ukuran pleci dengan ruji yang rapat, agar cipoh tidak gerabakan yang berefek rusaknya paruh dan bulu-bulunya” Tegasnya.

Ditegaskan Daus, untuk cipoh yang baru diambil dari ombyokan, baiknya jangan langsung dilakukan pengevoeran. Biarkan burung nyaman dan hidup sehat terlebih dahulu dengan dilakukan pengkrodongan dan disimpan ditempat yang sepi, serta full memakan pakan hidup selama kurang lebih 1 minggu.

“Untuk pakan baiknya diberikan Ulat Hongkong dan diselingi dengan Jangkrik yang terlebih dahulu jangkrik dan ulat hongkongnya diberi makan voer agar terdapat voer didalam perut EF yang kita berikan nantinya, sehingga cipoh akan dapat segera beradaptasi dengan aroma voer yang telah dimakan ulat hongkong ataupun jangkrik, sehingga saat proses pengevoeran nanti cipoh tidak asing lagi dengan aroma voer yang diberikan, dan jika sudah terlihat nyaman dalam beberapa hari, dapat buka separuh krodongnya agar beradaptasi dengan lingkungan” Jelasnya.

Jika cipoh sudah terlihat sehat dan aktif, proses pengevoeran dapat dilakukan “Cara pengevoeran bisa dilakukan dengan kroto yang di aduk voer, atau bisa juga menggunakan Ulat Hongkong yang di potong-potong lalu diaduk  dengan voer” Tuturnya.

Selanjutnya di katakan Daus, jika burung sudah mau memakan voer, tahapan selanjutanya adalah mengetahui apa EF kesukaannya “Dapat dilakukan dengan memberikan 15 ekor Jangkrik dan 15 ekor Ulat Hongkong pada 2 cepuk yang berbeda, lalu perhatikan mana yang lebih dulu ia menghabiskan dari kedua jenis Ekstra Fooding (EF) tersebut, sehingga dapat kita simpulkan EF yang lebih dulu ia habiskan adalah jenis EF yang ia sukai” Ujarnya.

Jika sudah diketahui EF yang ia sukai maka kita dapat memberikan EF tersebut sebanyak 10:5, misalkan EF yang disukai adalah jangkrik, maka hari selanjutnya dapat memberikan EF Jangkrik sebanyak 10 ekor dan ulat hongkong sebanyak 5 ekor “Terus kurangi jumlah pemberian EF sebanyak 1 ekor setiap harinya, sambil diselingi pemberian kroto sebanyak 1 sendok per 3x seminggu, sampai burung total mau memakan voer” Tukasnya.

Untuk membantu proses cipoh mau berkicau, Daus menambahkan untuk melakukan terapi sauna dan pengembunan agar merangsang cipoh mau berkicau “Proses sauna dapat dilakukan dengan krodong basah dengan terlebih dahulu mengangkat cepuk voer dan membiarkan cepuk air didalam sangkar, sauna dapat dilakukan antara jam 10 s/d jam 11 siang, dengan lama penjemuran sampai dengan krodong kering, dengan tetap memperhatikan kondisi burung. Jika burung dirasa tidak sanggup melakukan proses sauna sampai selesai, segera hentikan. Dan tambahkan durasi sauna pada hari berikutnya. Untuk pengembunan dapat dilakukan mulai pukul 5 pagi burung digantung ditempat terbuka” Tegasnya.

Menurut Daus, kendala utama bagi Cipman untuk merawat cipoh ombyokan adalah sulitnya membuat burung mau berkicau, kecuali memang jika kebetulan mendapatkan cipoh bahan dengan mental yang bagus, “Jangan pernah memaksakan cipoh ombyokan  agar cepat berbunyi, intinya adalah proses kesabaran dan perawatan yang baik, maka suatu saat anak-mu akan memberikan balasan yang setimpal” Tegasnya sambil menutup pembicaraan.